JAPBLOG

Selamat Datang

Statistik Gaya Deal or No Deal

RCTI kini tengah menanyangkan kuis Deal Or No Deal yang merupakan acara kuis nomor satu sepanjang tahun 2007 di Amerika Serikat. Permainannya sederhana, enam peserta menjawab pertanyaan kuis yang diberikan oleh host, dan peserta yang menjawab tercepat akan memperoleh kesempatan untuk merebut uang senilai 2 milyard rupiah. Peserta yang beruntung ini dipersilahkan memilih satu tas dari 26 tas yang diyakininya berisi uang 2 milyard rupiah. Peserta mempertahankan tas tersebut selama satu jam dari proses tawar menawar Bankir yang menginginkan peserta keluar dengan uang kurang dari 2 milyard rupiah.

Dibalik kesederhanaan permainan ini, peserta sebenarnya terjebak oleh atmosfer penonton dan gaya pembawa acara agar muncul keterlibatan emosi peserta yang menjadi ruh dari kuis ini. Bayangkan seorang peserta menolak penawaran uang puluhan juta rupiah demi mimpi memperoleh uang dua milyard rupiah hanya karena mendengar teriakan “NO Deal” dari kursi penonton ditambah tatapan mata serta kata-kata manis Tantowi Yahya. Apakah kemudian peserta harus pergi ke dukun untuk dapat menebak isi tas bernilai dua milyard rupiah? naif sekali. Deal Or No Deal sebenarnya adalah sebuah permainan statistik. Sekalipun faktor keberuntungan ikut berperan dalam kuis ini, peluang memperoleh hadiah dua milyard rupiah tetaplah sangat tipis sekali.

dealornodeal.jpgStrategi peserta sebaiknya adalah bagaimana memperoleh penawaran terbaik dari Bankir yang duduk di kegelapan berdasarkan kondisi aktual permainan yang tengah berjalan. Saya ambil satu contoh acara Deal or No Deal yang dipandu oleh Howie Mandel (NBC). Seorang wanita memperoleh tawaran US $ 80,000 dari Bankir. Di layar tersisa pilihan $ 100, $ 400, $ 1000, $ 50,000, dan $ 300,000. Peserta memilih “NO DEAL” setelah diteriakkan “NO DEAL” berulang kali dari penonton dan kata-kata manis Howie Mandel yang seolah memberinya harapan akan menang $ 300,000. Ketika wanita tersebut kemudian memilih satu koper untuk dihilangkan dan ternyata isi koper tersebut adalah $ 300,000, maka muncul suara simpati “Ooooooooohhhhh” di acara tersebut. Peserta hanya bisa termangu karena peluang memperoleh $ 80,000 dipastikan hilang. Wanita tersebut seharusnya mengambil penawaran Bankir. Mengapa? Nilai tengah dari hadiah di seluruh koper yang tersisa adalah $ 70,300. Penawaran dari Bankir sebesar $ 80,000 tentunya di atas nilai tengah hadiah yang ada di seluruh koper tersisa (12,13% lebih tinggi dari nilai tengah).

Besar hadiah di setiap negara jumlahnya berbeda-beda, akan tetapi alur pemainannya tetap sama. Saya pakai patokan Deal or No Deal versi Indonesia. Total hadiah yang ada di 26 koper adalah Rp. 4.846.941.500,-. Nilai tengah (rata-rata) seluruh hadiah tersebut adalah Rp. 186.420.826,92. Angka ini dapat saja menjadi patokan peserta ketika menimbang penawaran dari Bankir. Jika peserta kurang beruntung karena menutup 13 angka yang nilainya berada di sisi kanan layar hadiah, rata-rata sisa hadiah yang ada sebenarnya masih bernilai Rp. 1.303.192,31.

Kunci permainan ini adalah: peserta perlu mengetahui nilai tengah hadiah yang tersisa dalam waktu singkat dan dengan sedikit keberuntungan, peserta mungkin berhasil memaksa Bankir untuk memberikan penawaran di atas nilai tengah tersebut. Bankir umumnya memainkan penawaran pada angka yang rendah hingga mendekati nilai tengah (25-45%). Apabila peserta beruntung, Bankir tentunya akan menambah penawarannya hingga melebihi nilai tengah hadiah yang tersisa.

Akan tetapi strategi juga penting dalam permainan ini. Misalnya, saya tengah ditawarkan Rp. 252 juta oleh Bankir. Di layar tersisa pilihan Rp. 500 juta, Rp. 300 juta, dan Rp. 100 juta. Berdasarkan total keseluruhan hadiah tersisa, maka nilai tengahnya adalah 300 juta. Penawaran Bankir jelas di bawah nilai rata-rata sisa hadiah (lebih rendah 16%), sekalipun di atas nilai tengah total hadiah keseluruhan (lebih tinggi 26%). Akan tetapi peluang bahwa tas yang saya pegang berisi uang Rp. 500 juta hanya 33%. Kalau saya memilih dengan tepat tas berikutnya yang berisi Rp. 100 juta maka tawaran dari Bankir akan berlipat hampir 2 kalinya. Akan tetapi jika saya gagal memilih tas yang berisi Rp. 100 juta, maka Bankir akan menurunkan penawarannya karena peluangnya sama besar (50:50) dan saya dinilai gagal. Sisanya tentu berkait ke faktor keberuntungan.

Akan tetapi, seberapa besar faktor keberuntungan menjamin kesuksesan bermain di kuis ini? Oleh karenanya, ketika Bankir telah memberikan penawaran di atas rata-rata hadiah, saran saya hanya satu: GET OUT WHILE YOU CAN….Kalau memakai istilah pialang saham di BEJ, ketika melihat keuntungan sudah di atas 10% maka mereka akan berteriak JUAL! JUAL! JUAL!

Pertanyaan saya kemudian adalah, apakah mereka yang selama ini ikut kuis Deal or No Deal memakai perhitungan statistik?

January 3, 2008 - Posted by | CERPEN

2 Comments »

  1. Maknyuss analisisnya!

    Comment by lahandi | April 24, 2008 | Reply

  2. suatu analisis yang sangat bagus dan masuk akal
    kadang hal seperti diatas sering juga kita alami seandainya saya menjadi peserta yang maju…mungkin saya akan meginginkan hadiah yang lebih besar tentunya

    Comment by Onderdil | September 3, 2008 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: