JAPBLOG

Selamat Datang

SELAMATKAN LIGA INDONESIA!!!

ligina.jpgMenteri Dalam Negeri telah melarang pemerintah daerah mengalokasikan dana APBD untuk klub sepakbola di Liga Indonesia. Kini 34 klub eks perserikatan tengah meradang dan mengancam mogok dari Liga Indonesia 2008 mendatang. Selama ini harus diakui bahwa mayoritas klub eks perserikatan terlena oleh besarnya subsidi yang diberikan pemerintah daerah. Jika PSSI tetap mendorong lahirnya Super Liga tahun 2008 dengan kondisi mayoritas klub nyaris bangkrut, tampaknya para pengurus asosiasi olahraga tertua di Indonesia ini masih terlena dengan dana APBN.

 

UPAYA PERBAIKAN
Apakah klub-klub di Liga Indonesia akan seumur hidupnya mengemis dana APBD? Sebenarnya ada sejumlah langkah yang dapat dirintis manajemen klub dan PSSI guna menyelamatkan persepakbolaan Indonesia dengan cepat. Pertama, manajemen klub merubah status hukum organisasi klub menjadi perseroan. Sebagian klub-klub sudah merintis langkah ini seperti Persebaya sejak tahun 2005, Persija di penghujung tahun ini, dan juga PSMS yang kabarnya akan diambil alih oleh tiga pengusaha besar. Status perseroan akan melegitimasi klub mencari dana melalui sponsorship, kerja sama bisnis, penjualan merchandise, dan menjaring investor. Manajemen klub yang berbentuk perseroan juga akan lebih sehat karena anggaran pendapatan dan pengeluaran klub transparan.
Kedua, memberlakukan salary cap bagi para pemain Liga Indonesia. Sudah menjadi rahasia umum, sejumlah pemain memiliki nilai kontrak sangat tinggi di Liga Indonesia, khususnya para pemain asing. Sekalipun salary cap akan menimbulkan resistensi pemain, ini akan menjadi titik awal yang baik sebelum melangkah ke model Super Liga yang modern dan profesional. Liga Inggris pernah menerapkan salary cap hingga besaran 50.000 poundsterling per minggu. Bandingkan dengan gaji pemain di Liga Italia dan Spanyol yang jauh lebih tinggi. Salary cap kini tidak lagi diberlakukan oleh klub-klub papan atas Liga Inggris karena format kompetisi sudah sangat modern. Bandingkan dengan pamor Liga Italia yang hancur akibat kasus suap dan bangkrutnya sejumlah klub di Serie A.
Ketiga, klub-klub merekrut pemain muda sebagai pelapis tim utama. Kebijakan ini dapat menghemat anggaran bila dibandingkan dengan merekrut pemain asing. Beberapa klub seperti Pelita Jaya sebenarnya sudah melakukan hal ini sejak lama ketika merekrut pemain-pemain eks Primavera dan Baretti di tahun 1990-an. Sebagian besar pemain Timnas U-23 yang akan terjun di SEA Games 2007 nanti merupakan punggawa klub yang bermarkas di Purwakarta ini. Selain dapat menghemat anggaran, regenerasi pemain di setiap klub juga tetap terjaga. Saat ini ada banyak pemain Timnas U-19 yang tidak memiliki klub, padahal kualitas mereka cukup baik ditambah pengalaman mereka bertanding melawan Australia dan Korea Selatan pada pentas penyisihan AFC U-19 di Vietnam, Oktober 2007 lalu.
Keempat, PSSI harus melepaskan dominasi sponsorship agar klub leluasa menggandeng sponsor. Jika peraturannya masih absurd, Arema Malang mungkin akan bernasib seperti Bandung Raya akibat pertentangan sponsorship dengan PSSI. Pertanyaannya kemudian, dari mana PSSI memperoleh dana untuk operasional liga, gaji wasit, serta administrasi liga lainnya? Dana tersebut dapat diperoleh dari iuran setiap klub ke Badan Liga Indonesia serta bagi hasil hak siar televisi nasional. Ini mekanisme yang banyak berlaku di berbagai liga profesional. Ancaman bagi klub yang menunggak iuran adalah degradasi, sebagaimana dialami Fiorentina yang turun ke serie C karena tidak sanggup membayar iuran partisipasi di serie A.
Kelima, klub menyewa security outsourcing untuk pengamanan tiket, tim tamu, dan material sponsor. Kualitas akses yang buruk di seluruh stadion di Indonesia berdampak pada banyaknya penonton ilegal. Ini tentunya meningkatkan potensi ancaman dan serangan terhadap tim tamu, wasit, serta aksi perusakkan atribut sponsorship oleh penonton. Pendapatan klub akhirnya berkurang akibat banyaknya biaya perbaikan dan denda yang harus dibayar. Penjagaan akses ke dalam stadion tentunya penting untuk menjaga pundi-pundi bisnis klub.
Keenam, kerja sama dengan TV daerah. Pertandingan rekaman tetap memiliki nilai jual karena klub daerah umumnya punya suporter fanatik. TV lokal bisa kerja sama dengan klub untuk siaran pertandingan rekaman, tapi kontraknya jangan merusak kerja sama dengan TV nasional yang menyiarkan Liga Indonesia. Negosiasikan saja soal jangkauan wilayah siaran dan jam siaran agar TV nasional mau melepaskan hak siar eksklusif pertandingan rekaman klub.
Ketujuh, Pemda bisa memberikan dukungan dengan menyediakan lapangan dan stadion gratis, sehingga klub tidak terbebani biaya sewa. Kalau ada kerusakan tentunya klub dan panitia tanggung jawab. Ini juga mensiasati tingginya beban klub ketika tidak ada lagi dana APBD buat klub.

 

Nah, sebenarnya klub-klub eks perserikatan bisa diselamatkan kalau para pemimpin daerah mau mengalah untuk menyerahkan manajemen klub ke tangan swasta tanpa melepaskan tanggung jawab total. Biar bagaimanapun, sepakbola adalah olahraga favorit masyarakat Indonesia. Menggerakan roda bisnis dalam industri sepakbola memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Akan tetapi, kondisinya akan lebih buruk bila tidak ada satupun langkah perbaikan yang dilakukan. Jika klub sebagai wadah pembinaan pemain tidak lagi mampu mencetak pemain berkualitas karena bangkrut, bagaimana nasib tim nasional Indonesia kedepannya? (*)

November 23, 2007 - Posted by | GELISAH

2 Comments »

  1. I was searching for this kind of a blog for months now. Actually lost the hope of finding one, but here i am🙂 Thanks for the great articles! Looking forward for a little read after dinner🙂

    Thank you for the visit dinosaur fact… whatever your name is….😀
    Waiting for your other responses on my articles

    Comment by dinosaur fact | November 26, 2007 | Reply

  2. interesting article I must say. Great pointers to save Indonesian football clubs. Nice job.

    Comment by indonesianfootball | December 4, 2007 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: