JAPBLOG

Selamat Datang

Sepuluh Jalur Busway

Dalam satu bulan terakhir muncul protes dan demo mengenai pembangunan jalur busway di kawasan Pluit dan Pondok Indah. Warga mengeluhkan kemacetan yang akan kian menjadi-jadi jika jalan-jalan di kawasan Pondok Indah dan Pluit di ambil sebagian untuk menjadi jalur busway.
Saya kemudian bertanya-tanya, kenapa protes muncul jika pembangunan ini diperlukan bagi kepentingan masyarakat banyak. Saya kembali membuka kliping-kliping koran mengenai protes masyarakat dalam proses pembangunan busway.

Koridor I: Blok M—Kota diprotes karena akan mengurangi pendapatan bus reguler. Saya menilai jalur ini tepat untuk dibangun busway karena kecenderungan karyawan level menengah di kawasan ini mempergunakan motor atau mobil pribadi. Dengan adanya transportasi murah dan nyaman, mereka memiliki alternatif transportasi menghindari macet. Sayangnya, sarana parkir kendaraan di dekat halte-halte busway tidak memadai. Siapa yang mau parkir mobil di pasar Blok-M? pagi parkir, sore spion hilang. Parkir di mall Blok-M? Belum tentu dibuka jam 7 pagi…..

Koridor II: Pulo Gadung—Harmoni diprotes karena pemotongan pohon-pohon rindang untuk pembangunan halte busway. Saya menilai jalur ini sudah tepat, apalagi sejak diperbesarnya terminal transit Harmoni. Jalan-jalan utama yang dilalui cukup lebar. Sayangnya, target penumpangnya sangat tipis yakni karyawan dan mahasiswa yang notabene lebih suka naik motor pribadi sehingga tidak menutup operasional operator bus.

Koridor III: Kalideres—Pasar Baru diprotes karena adanya pengalihan jalur sejumlah bus kota agar berfungsi sebagai feeder busway. Jalur ini memang unik karena awalnya berusaha menghindari jalur bus umum namun sepi penumpang dan berkait ke kawasan industri di perbatasan Tangerang. Jalur II dan III kini sedang dalam pengawasan karena target penumpangnya yang tipis sehingga tidak mampu menutupi biaya operasional.

Koridor IV: Pulogadung—Halimun relatif sepi dari protes pada saat pembangunannya. Jalur jalan yang dilalui juga cukup lebar dan memberikan alternatif transportasi bagi pengguna jalan. Sayangnya, service dan keamanan di koridor ini kerap disoroti oleh pengguna busway. Jumlah bis yang sedikit, aksi pencopet, dan petugas yang tidak ramah sudah menjadi bagian dari resiko penumpang di koridor IV

Koridor V: Kp Melayu—Ancol diprotes angkot M-01 yang jumlahnya 1000 lebih karena bersinggungan jalur. Akan tetapi inilah jalur favorit anak muda di akhir minggu. Wisata ke Ancol kian mudah, murah, dan nyaman. Sayangnya, kawasan Mangga Dua rawan banjir karena letaknya yang lebih rendah dari permukaan laut.

Koridor VI: Ragunan—Latuharhari merupakan jalur neraka di selatan Jakarta. Jalan-jalan yang dilalui sempit dan selalu diwarnai kemacetan mulai dari pagi hingga malam. Pola gerak penumpangnya adalah karyawan dari kawasan pinggiran selatan Jakarta hingga Depok yang parkir kendaraan di kebon binatang Ragunan dan naik busway ke arah Kuningan. Aktivitas penumpang di kawasan Warung Jati, Mangga Besar, Buncit, dan Mampang juga sangat rendah. Sejak awal koridor ini diusulkan menjadi jalur monorail dengan membangun stasiun di Ragunan dan Manggarai. Satu stasiun tambahan yang diperkirakan ramai adalah di Imigrasi Jakarta Selatan. Stasiun Pasar Festival dapat menjadi transit perpindahan penumpang untuk kemudian melalui kawasan Menteng Atas, Saharjo, dan berakhir di Manggarai (kerja sama doong dengan PT KAI… jangan pelit nggak bagi-bagi rejeki…. akhirnya nggak ada yang beres monorailnya….)

Koridor VII: Kp Rambutan—Kp Melayu adalah jalur neraka di timur Jakarta. Bayangkan saja jalan raya pasar rebo, kramat jati, hingga cililitan yang sempit dan padat dibelah dua untuk jalur busway. Ratusan supir bus dan angkot juga mengecam jalur ini karena mereka kehilangan penumpang. Kalau saya pribadi menilai seharusnya Pemda DKI tidak menjadikan koridor ini sebagai jalur busway, karena jumlah busnya sudah terlalu banyak dan Pemda tidak berani menghapuskan rute-rute bus yang melalui kawasan ini. Solusinya monorail, karena karakteristik penumpangnya adalah mahasiswa dan karyawan yang bermukim di pinggiran Jakarta hingga Depok dan bekerja di kawasan Cililitan, atau mereka yang ingin transit busway di Kp. Melayu. Bahkan saya menilai jalur monorail di Jakarta Timur dapat menjadi jalur ramai karena tidak ada jalur kereta api yang dapat mengangkut penumpang dalam jumlah besar di Jakarta Timur. Sambungkan saja hinggaManggarai dan Kota, maka penumpangnya pasti banyak… (bagi-bagi rejeki dengan PT KAI….)

Koridor VIII: Lebak Bulus—Harmoni. Ini masih dalam perencanaan, namun sudah diprotes banyak orang. Pertama, jalan Pondok Indah yang rindang dan sempit akan dibagi 2 menjadi jalur busway. Padat dan macet pastinya. Kedua, rute yang dipilih memutar ke arah Tomang sebelum masuk ke transit Harmoni. Sedangkan karakteristik warga di sana rata-rata bekerja di Selatan Jakarta. Artinya, mereka butuh jalur cepat ke koridor I agar terhindar dari kemacetan. Kenapa saya harus memutar ke Daan Mogot kalau kantor saya di Sudirman..? Capeek deeh…..

Koridor IX: Pinang Ranti—Pluit. Ini masih dalam perencanaan, namun sudah diprotes banyak orang. Pertama, jalur yang dipakai memakan jalan pemukiman elite seperti di Pondok Indah. Kedua, jalan-jalan yang akan dilalui ukurannya sempit dan sudah dapat dipastikan akan menjadi jalur neraka di Utara Jakarta ketika ada busway.

Koridor X: Cililitan—Tanjung Priok. Ini masih dalam perencanaan dan protes masyarakat muncul karena penebangan tanaman di jalan enggano. Saya menilai jalurnya sudah tepat karena jalannya lebar dan menghubungkan kawasan-kawasan industri dengan wilayah pemukiman dan perdagangan di sepanjang Jakarta Timur. Pengguna motor yang rawan tertabrak bus atau truk raksasa di sepanjang jalan ini akan memiliki alternatif transportasi yang aman dan nyaman.

Nah, rekan-rekan sekalian, apa tanggapan anda semua mengenai sepuluh jalur busway di Jakarta…?

September 27, 2007 - Posted by | CERPEN

1 Comment »

  1. jumlah kendaraan terus bertambah tanpa disertai penambahan volume jalan
    yang ada sekarang malah makin dikurangi karena dipake untuk jalan buswae…

    Volume jalan sudah tidak mungkin ditambah. Transportasi massal adalah solusinya. Analisa saya, Pemda salah menilai kebutuhan jenis transportasi massal pada beberapa bagian di Jakarta. Misalnya waterway, kemana sekarang kapalnya..?

    Comment by caplang™ | October 31, 2007 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: