JAPBLOG

Selamat Datang

Tokoh Pewayangan IV

Bagian ini akan mengisahkan anak-anak Pandawa dan Kurawa yang terlibat atau berkaitan dengan kisah perang Bharatayudha. Kisah akan dimulai dari anak-anak Pandawa

Gatotkaca. Tokoh sentral dalam jagad wayang. Ia lahir dari Arimbi, istri Bima sebelum perang Bharatayudha. Sewaktu lahir tali pusarnya tidak dapat diputus oleh senjata apapun. Bima yang kebingungan meminta nasehat Kresna agar anaknya selamat. Kresna menyuruh Arjuna meminta senjata Konta (Wijayandanu) ke Betara Indra. Sayangnya, senjata tersebut sudah jatuh ke tangan Karna sehingga Arjuna hanya memperoleh sarung senjata Konta. Akan tetapi sarung senjata tersebut memiliki tuah sakti. Ketika memotong tali pusar Gatotkaca, sarung tersebut masuk ke dalam tubuh Gatotkaca sehingga ia dikenal dengan nama Tetuko. Sewaktu Gatotkaca masih bayi, terjadi huru-hara di Kahyangan. Raja raksasa, Pracona dan Sekipu, berusaha merebut kahyangan dari tangan dewa. Para dewa kemudian membawa Gatotkaca yang masih bayi untuk melawan kedua raksasa tersebut. Ketika kedua raksasa tersebut akan memakan bayi Gatotkaca, tubuhnya kebal terhadap gigitan kedua raksasa tersebut. Para Dewata merasakan adanya harapan kemenangan sehingga bayi Gatotkaca dimasukkan oleh para dewata ke kawah Candradimuka, dan para dewata melemparkan pusaka-pusaka mereka sebagai pelengkap kesaktian. Dalam sekejap keluarlah Gatotkaca dewasa dan mengalahkan Pracona dan Sekipu. Gatotkaca juga menyelamatkan Kerajaan Dwaraka dari pemberontakan Bomanarakasura, putra Kresna yang dihasut Sangkuni untuk memberontak. Kesaktian Bomanarakasura konon dipengaruhi oleh ajian Pancasona Rahwana sehingga Hanoman merasuk ke dalam tubuh Gatotkaca untuk dapat mengalahkan Bomanarakasura. Kresna menempa kesaktian Gatotkaca dan mendidiknya strategi berperang. Gatotkaca menikah dengan Pergiwa dan memiliki anak Sasikirana (ada yang menyebut dengan nama BangbangKaca). Kisah cinta Gatotkaca dan Pergiwa ini dikisahkan dalam lakon Gatutkoco Gandrung di pewayangan Jawa. Ia memiliki kemampuan terbang di udara dengan aji kesaktian Kilat Tatit yang dapat menyambar musuh secara cepat. Kesaktiannya inilah yang dimanfaatkan Kresna untuk melawan Adipati Karna. Gatotkaca sebenarnya bukan tandingan Adipati Karna, kesaktiannya jauh di bawah Adipati Karna. Akan tetapi, ia memiliki kelebihan dengan bertarung di udara. Adipati Karna yang meledak amarahnya mengeluarkan senjata Konta (Wijayandanu) untuk menyerang Gatotkaca. Konon senjata Konta sebenarnya tidak dapat menyerang musuh yang ada di udara, namun karena sarung senjata Konta ada di dalam tubuh Gatotkaca, maka senjata tersebut terbang menuju ke sarungnya dengan menembus tubuh Gatotkaca yang bersembunyi di balik awan tebal. Tubuhnya jatuh ke bumi dan menghantam kereta Adipati Karna hingga hancur berkeping-keping.

Abimanyu. Ia adalah anak Arjuna hasil pernikahannya dengan Subadra. Ia adalah anak kesayangan para Pandawa karena dididik dan dilatih langsung oleh ayahnya. Ia menikah dengan Utari, putri raja Wirata agar memiliki garis darah kerajaan, dan memiliki anak Parikesit. Ia memiliki kemampuan membaca strategi lawan. Sewaktu Dorna dan Bisma memancing Arjuna dan Kresna ke medan laga, Abimanyu menyadari adanya tipuan pergerakan pasukan Kurawa. Ia maju berperang ke medan yang berbeda dengan ayahnya. Ia bertemu dengan Adipati Karna, Jayadrata, dan sekelompok Kurawa yang menjadi inti kekuatan pasukan Kurawa. Kesaktian Abimanyu tidak dapat dikalahkan oleh Jayadrata dan Kurawa, sehingga Adipati Karna maju melawan Abimanyu dan berhasil menghancurkan semua pusaka warisan Arjuna yang dipakai Abimanyu. Jayadrata dan para kurawa yang merasa di atas angin akhirnya membunuh Abimanyu dengan kejam setelah ia tidak bersenjata.

Bambang Irawan. Ia adalah anak Arjuna yang dilahirkan oleh Dewi Palupi. Ia dilatih langsung oleh kakeknya Begawan Jayawilapa. Ia menikah dengan Titisari, salah seorang putri dari Kresna sebelum perang Baratayudha. Ia menghadapi armada pasukan raksasa Gowabarong pimpinan Kalasrenggi di Baratayudha. Sayangnya, kesaktian Irawan tidak sanggup mengalahkan kekuatan Kalasrenggi yang bertubuh tinggi dan besar. Keduanya tewas dalam pertempuran.

Bambang Wisanggeni. Ia adalah putra Arjuna, pernikahan dengan Dewi Dresanala, putri Batara Brahma. Ia lahir di Kahyangan Daksinageni, kahyangannya Bathara Brahma. Ia lahir berwujud gumpalan api yang menyala sebelum berubah menjadi bayi . Bayi ini kemudian dibuang ke kawah Candradimuka oleh para dewata sehingga muncul seorang anak yang kuat, cerdik, pandai, dan sakti. Anak kecil ini diberi nama Wisanggeni oleh Semar karena muncul dari gumpalan api. Wisanggeni sewaktu lahir tidak direstui oleh para Dewata karena istri-istri Arjuna di Kahyangan tidak ada yang melahirkan anak. Wisanggeni kecil disembunyikan oleh Hanoman di pertapaan Kendalisada. Ia dilatih oleh Batara Baruna dan sang Hyang Antaboga. Karena sejak kecil tidak dekat dengan kedua orangtuanya, ia menjadi liar. Wisanggeni selalu membuat kekacauan di kahyangan dan Dwaraka, namun dengan sabar Adipati Kresna menghadapi tingkah Wisanggeni dengan mengadu kesaktiannya ke Antasena. Keduanya sering berkelahi namun akhirnya menjadi akrab. Wisanggeni menikah dengan Dewi Mustikawati, putri Prabu Mustikadarma, raja negara Sonyapura. Ia tidak sempat terjun ke dalam perang Baratayudha. Ia dan Antasena menghadap Batara Guru untuk meminta petunjuk dan restu agar dapat maju berperang di Baratyudha. Akan tetapi keduanya mati sebagai tumbal kemenangan Pandawa atas saran Adipati Kresna.

Antasena. Dalam beberapa versi pewayangan Antasena dan Antareja dikisahkan sebagai satu orang yang sama. Akan tetapi pada bagian ini dibedakan karena Antasena merupakan anak Bima dari putri Urang Ayu sedangkan Antareja adalah anak Bima dari putri Nagagini. Antasena memiliki kesaktian dapat masuk ke dalam air, tanah, dan kebal terhadap berbagai senjata karena kulitnya dilapisi sisik milik kakeknya. Antasena menjadi raja di negara Dasarsamodra, bekas negara Prabu Ganggatrimuka yang mati terbunuh dalam peperangan melawan kakeknya Hyang Mintuna. Ia memiliki pusaka Cupu Madusena, yang dapat mengembalikan kematian di luar takdir. Ia juga tidak dapat mati selama tubuhnya masih bersinggungan dengan air atau uap air. Ia sering diminta Kresna untuk berkelahi melawan Wisanggeni yang liar, namun keduanya kemudian menjadi akrab. Keduanya menghadap Betara Guru meminta restu dan petunjuk untuk berperang di Baratayudha, namun akhirnya menjadi tumbal agar Pandawa menang atas saran Sri Kresna.

Antareja. Ia adalah anak Bima dari Nagagini, putri Hyang Antaboga. Sebagai penguasa dunia bawah tanah dan ahli racun, Antareja memiliki lidah yang sangat sakti. Ia cukup menjilat jejak kaki lawannya, maka lawannya akan mati. Anatareja berkulit napakawaca, sehingga kebal terhadap senjata. Ia memiliki cincin mustikabumi, pemberian ibunya, yang mempunyai kesaktian menjauhkannya dari kematian selama masih menyentuh bumi/tanah dan dapat digunakan untuk menghidupkan kembali kematian di luar takdir. Ia tidak sempat bertempur di Baratayudha. Ada dua versi yang menceritakan penyebab Antareja tewas. Pertama, ia dijebak Kresna yang konon tengah mengejar jejak Duryudana. Antareja diajak berputar dan tiba-tiba Kresna menunjuk sebuah jejak kaki yang dianggapnya sebagai jejak kaki Duryudana. Antareja disuruh menjilat jejak kaki tersebut, namun tiba-tiba ia tewas karena jejak kaki tersebut ternyata adalah jejaknya sendiri. Hal ini dilakukan Kresna karena Baladewa diramalkan akan tewas di Baratayudha oleh Antareja. Ketika waktu peperangan sudah dekat, Baladewa belum berhasil dibujuk untuk bertapa meninggalkan arena pertempuran, sehingga cara tercepat adalah membunuh Antareja yang akan menjadi lawan Baladewa. Versi kedua menceritakan hal yang sama dengan yang terjadi kepada Wisanggeni dan Antasena, dimana ia menghadap Batara Guru untuk meminta petunjuk dan restu, namun menjadi tumbal Pandawa atas keinginan Kresna.

Sekalipun jumlah kurawa ada 100 orang, tidak banyak kisah mengenai anak-anak Kurawa yang ikut berperang di Baratayudha. Ada beberapa kisah anak-anak Kurawa yang terjun di medan laga.

Lesmana Mandrakusuma. Ia adalah anak Duryudana. Ia menjadi pesaing Gatotkaca ketika merebutkan Pergiwa. Akan tetapi karena sifatnya kekanakan dan dilindungi oleh paman-pamannya, maka ia tidak disukaiPergiwa. Ia bersama Samba (putra Kresna) gagal bersaing dengan Abimanyu memperebutkan Wahyu Cakraningrat dalam proses pertapaan selama 40 hari. Oleh karena itulah keturunan Abimanyu didaulat menjadi pewaris tahta Astina dan dapat menikah dengan Utari, putri raja Wirata. Ada bagian yang menceritakan bahwa ia tewas di tangan Abimanyu saat perang karena Lesmana marah atas kekalahannya dalam memperebutkan Wahyu Cakraningrat.

Selain tokoh-tokoh di atas, sebenarnya ada beberapa perwira muda yang merupakan anak dari para ksatria yang tewas sebelum dan saat perang Baratayudha seperti Aswatama, Samba, Bomanarakasura, dan lainnya. Namun tulisan ini dibatasi pada keturunan Pandawa dan Kurawa saja. (*)

August 16, 2007 - Posted by | CERPEN

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: