JAPBLOG

Selamat Datang

Aparat Intelijen di Pesawat

arsenic.jpgSebuah diskusi di Jakarta Media Center digelar 24/04 berkenaan dengan keterangan Direktur Garuda Indra Setiawan, bahwa maskapai Garuda dapat dipakai untuk kepentingan intelijen negara bila diperlukan. Pernyataan ini menjadi sorotan tajam karena Garuda Indonesia (GIA) dinilai melanggar prinsip penerbangan sipil yang bebas kepentingan dan menjamin rasa aman. Meninggalnya Munir di dalam pesawat yang diduga akibat operasi intelijen merupakan pelanggaran terhadap konvensi Warsawa 1929 dan dapat dituntut pertanggungjawaban tidak terbatas.

Saya jadi ingat aksi Leila Khaleed di maskapai El Al Israel pada tahun 1968. Aksi pembajakan pesawat selama empat puluh hari tersebut merubah wajah konfigurasi keamanan dalam pesawat terbang, khususnya maskapai Israel, negara-negara Eropa, dan Amerika Serikat. Di setiap pesawat terbang sipil dengan rute penerbangan internasional selalu ada air marshall yang berpakaian dan berperilaku layaknya penumpang. Ia terlatih dengan baik untuk mengamati kondisi keamanan di dalam pesawat dan dilengkapi dengan senjata api.

Keberadaan sebuah institusi, selama ada kepemilikan negara di dalamnya, menunjang kepentingan nasional, dan menguasai hajat hidup orang banyak, harus dikendalikan oleh negara. Terlepas konsep ini melawan hukum alam kapitalisme, profesionalisme harus tetap dijaga dalam manajemen internal agar institusi tersebut dapat tetap bertahan hidup dan tidak bergantung kepada subsidi negara.

Apakah Garuda Indonesia boleh dimanfaatkan untuk aksi intelijen Indonesia? Tanpa harus diatur dalam regulasi resmi, penulis menduga ada sejumlah agen intelijen negara yang tertanam di dalam maskapai penerbangan nasional tersebut. Selain itu, keberadaan intelijen nasional dalam GIA—kalaupun ada—harus dijaga kerhasiaannya. GIA melayani rute penerbangan internasional dan mayoritas pejabat negara termasuk Presiden bepergian dengan pesawat Garuda Indonesia. Ini menunjukkan bahwa dalam satu kondisi tertentu, keamanan pesawat dan jalur penerbangan GIA tidak ditangani oleh mereka yang sehari-hari bertugas di menara ATC, kokpit, dan ground handling.

Bagaimana keterkaitannya dalam kasus pembunuhan Munir? Jika Munir memang dibunuh agar tidak bersuara keras mengenai pelanggaran HAM di masa Orde Baru, maka pihak yang membunuh Munir tentunya adalah pihak-pihak yang tahu bagaimana memanfaatkan “privilege” di GIA, secara formal ataupun informal. Apakah Pollycarpus anggota intelijen? Entahlah, karena kemungkinan adanya keterlibatan agen-agen intelijen dalam pembunuhan Munir itu sendiri masih suram.

Apa yang terjadi pada Munir, baiknya menjadi pelajaran kita semua. Jika Anda seorang High Profile yang memiliki banyak lawan, maka kewaspadaan tentunya harus terus ditingkatkan. Satu peristiwa tidak lazim yang terjadi pada diri Anda harus menjadi alarm peringatan diri anda untuk tetap awas. Lawan tidak akan menyerang ketika Anda kuat, tetapi Anda tidak akan menyadari bahwa kematian datang begitu cepat hanya gara-gara minum teh hangat….

Jakarta, 30 April 2007

April 30, 2007 - Posted by | GELISAH

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: