JAPBLOG

Selamat Datang

Perampokan di Bandung

Masyarakat terhenyak ketika enam perampok bersenjata semi otomatis merampok sebuah toko emas di Bandung, menewaskan dua orang, melukai empat polisi, dan membawa lari delapan kilogram emas. Ini sungguh mengejutkan dan membuka mata kita semua bahwa ada sindikat penjahat kelas berat yang selama ini hanya dapat disaksikan dalam film-film Hollywood.

Saya jadi teringat film Heat yang menampilkan Al-Pacino, Bradd Pitt, dan Robert De Niro. De Niro dan Pitt memerankan adik-kakak yang terjun dalam sindikat perampokan dan penyelundupan kelas kakap sedangkan Pacino berperan sebagai polisi yang sudah melacak mereka selama bertahun-tahun. Puncaknya adalah aksi perampokan bank di pusat kota hingga pengejaran ke tepian Bandara yang berakhir dengan kematian De Niro.

Sindikat dalam film Heat ini merancang dengan baik strategi perampokan dengan menyamar sebagai pengunjung, lalu beraksi di dalam bank tidak lebih dari 30 menit, lalu mereka keluar dari bank. Akan tetapi karena kesigapan polisi, lokasi bank berhasil diblokir, sehingga para sindikat beradu tembak dengan polisi untuk lolos. Satu-persatu mereka berusaha melarikan diri dengan strategi yang berbeda-beda.

Ikatan emosional yang terbangun dalam sindikat inipun bukan sekedar bagi hasil. Mereka memiliki keluarga dan anak yang harus diberi penghidupan. De Niro bahkan memberikan pernyataan “This is the last one and we all can retire as happy man” untuk meyakinkan mereka semua agar mau beraksi untuk yang terakhir kalinya.

Kembali ke perampokan di Bandung, para pelaku jelas memiliki perencanaan rapi yang mungkin sudah mereka susun sejak berbulan-bulan. Jalan terusan Pasir Koja yang tidak jauh dengan jalan tol Padaleunyi memberikan akses bagi para pelaku untuk melarikan diri dengan kendaraan. Para pelaku juga memahami dengan baik lemahnya penjagaan toko-toko emas di pinggir jalan yang sebenarnya memiliki aset bernilai tinggi.

Kecurigaan polisi bahwa pelakunya adalah residivis yang baru lepas dari LP Kebon Waru mungkin ada benarnya. Aksi kejahatan bersenjata api adalah creme de la creme. Aksi kejahatan tingkat tinggi. Sulit membayangkan seorang pencopet bus kota tiba-tiba menembakkan senjata api dan menewaskan dua orang serta melukai empat polisi. Pelaku tentunya memiliki keahlian mempergunakan senjata api dan emosi yang stabil ketika menembakkan senjatanya ke arah polisi, ke udara untuk membubarkan massa di sekitar toko emas, dan membunuh pemilik toko serta satu orang pengunjung toko.

Jika tingkat persiapan mereka baik, kemungkinan mereka akan pindah ke dalam mobil, menuju ke jalan tol, dan melarikan diri ke tempat-tempat yang dapat memberikan persembunyian. Mereka akan mencari penadah untuk menjual hasil rampokannya dan kemungkinan tertinggi adalah lari ke arah pelabuhan laut dan berlayar ke luar Jawa atau menuju ke daerah perbatasan.

Pada tahun 2005, PBB telah menetapkan bahwa ancaman terbesar keamanan internasional adalah beredarnya senjata pembunuh berskala kecil yang sulit dideteksi peredarannya. Hal ini berkaca pada gejolak keamanan di benua Afrika yang selalu mengalami ketidakstabilan politik akibat pertentangan bersenjata antar kelompok yang berbeda etnis dan agama. Jika satu AK47 buatan RRC di pasaran gelap harganya di bawah 100 US dollar, maka tidak hanya pemimpin gerilyawan yang tertarik membeli, sindikat-sindikat kejahatan di kota-kota besar akan ikut antri.

Kebijakan Polri untuk menghentikan izin kepemilikan senjata api di masyarakat sipil boleh diacungi jempol. Akan tetapi, sejauh mana efektifitas kebijakan tersebut, tentunya masih tanda tanya besar. Terlepas buruknya diseminasi berita mengenai kemajuan kerja Polri kepada masyarakat, perampokan di Bandung pada akhirnya menjadi bukti bahwa penjahat bersenjata api kini kian modern dan memiliki strategi matang dalam beraksi.

Ini tentunya sinyal buruk bagi para pelaku bisnis. Mereka harus mengalokasikan biaya  yang terlalu tinggi untuk menyewa lebih banyak sekuriti profesional, bodyguard, atau jadi sasaran pemerasan  oknum aparat dan centeng jago kandang yang berlatar etnis dengan mengatasnamakan keamanan. Kalau sudah begini, siapa mau berbisnis di Indonesia?

(13 April 2007)

April 13, 2007 - Posted by | GELISAH

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: