JAPBLOG

Selamat Datang

Kisah Nasabah Bank….

robber.gifHari ini (6/3) di sebuah koran harian ada berita yang sedikit mengejutkan. Empat karyawan yang ditugaskan perusahaannya untuk mencairkan uang di Bank, di rampok. Uang gaji karyawan sebesar 800 juta rupiah amblas dibawa lari empat penjahat bersenjata api. Keempat penjahat ini menggunakan taksi, yang diperkirakan ‘bodong’, dan dengan mudah meloloskan diri di tengah kemacetan Jakarta.

Penjahat bersenjata api, dalam pemahaman pengamat kriminal, merupakan strata tertinggi pelaku kejahatan. Aksinya dikategorikan sebagai creme de la creme, atau kejahatan di tingkat tertinggi. Pelaku bersenjata api dinilai sebagai orang yang dapat mengendalikan emosinya ketika memegang senjata, memahami cara menembak yang benar, tidak ragu untuk membunuh korbannya jika melawan, dan siap bertaruh nyawa di setiap aksinya.

Aksi perampokan terhadap nasabah bank oleh penjahat bersenjata api pernah marak di tahun 2005. Para pelaku selalu berjumlah empat orang, menaiki dua sepeda motor, dan membawa pistol untuk menakuti korbannya. Jumlah pelaku mungkin lebih dari empat orang karena para pelaku tentunya harus jeli dalam “melakukan seleksi” terhadap nasabah bank yang ada. Jangan sampai salah memilih korban hanya karena pakaian necis dan sedan yang terparkir di depan pelataran bank.

Saya mengunjungi kantor redaksi Security Journal, sebuah media yang mengulas banyak tentang masalah keamanan. Mungkin tidak banyak yang tahu keberadaan media ini, karena mereka memang tidak menerapkan strategi pasar terbuka. Saya kenal mereka sejak pertengahan tahun 2004 dan mereka memang punya keahlian melakukan analisa soal yang satu ini.

Pendapat mereka cukup menarik, menurut saya. Silakan ditanggapi. Mereka menilai bahwa aksi perampokan nasbah bank disebabkan oleh tiga faktor. Pertama, lemahnya rencana pengamanan bank dalam mengantisipasi adanya kaki tangan pelaku di dalam bank. Setiap harinya, ratusan orang datang ke bank untuk berbagai maksud dan tujuan. Dari jumlah tersebut, berapa banyak yang melakukan transaksi perbankan? Coba yang satu ini. Anda duduk diam di dalam bank, tidak melakukan apa-apa, selama satu jam. Apabila Anda tidak ditegur oleh Satpam bank, maka ada kemungkinan orang lain yang telah lebih lama berada di dalam bank tersebut tanpa tujuan yang jelas.

Para pelaku umumnya menempatkan pengintai di dalam bank. Setelah menemukan calon korbannya, pengintai di dalam menelpon gengnya di luar bank untuk bersiap dan beraksi setelah diberikan tanda. Para pengintai ini bertindak seperti nasabah lainnya. Membawa buku tabungan, menulis slip, dan ada yang mengantri dengan mengambil nomor atau berdiri di barisan.

Hal kedua adalah rendahnya kesadaran nasabah bank untuk mengamankan dirinya agar tidak menjadi sasaran perampokan. Anda bayangkan, empat orang karyawan biasa, mengambil uang 800 juta tanpa pengawalan Satpam atau polisi. Di satu sisi, jika strateginya tepat, mungkin mereka ingin tidak tampil mencolok. Sehingga perusahaan menugaskan beberapa orang untuk mengambil dana dalam jumlah besar. Pertanyaannya, apakah mereka mampu mendeteksi para pelaku yang mengamati mereka? Ternyata mereka yang diawasi dan dibuntuti oleh para pelaku sejak di dalam bank hingga di lokasi kejadian. Rendahnya kesadaran nasabah juga berkaitan dengan kultur yang menganggap security sebagai cost bukan investment. Security Journal pernah mengupas mengenai jasa kawal angkut yang juga sempat menjadi sasaran aksi perampokan. Keberadaan perusahaan jasa kawal angkut ini ternyata belum banyak dioptimalkan oleh para pelaku bisnis untuk mengamankan transaksi perbankan dan keuangan dalam jumlah besar.

“Mungkin karena mereka juga menjadi korban perampokan?” tukasku

“Itu resiko bisnis. Mereka dilindungi asuransi, ada cover-nya. Kalau kamu bawa uang sendiri dan dirampok. Siapa yang mau ganti?” jawab salah satu assessor Security Journal.

Media ini unik. Mereka memiliki tim analis yang bergerak sebagai pencari berita dan juga ahli melakukan assessment. Oleh karenanya orang-orang ini tidak memakai istilah reporter tetapi assessor, orang yang melakukan assessment.

Hal ketiga adalah minimnya kampanye ‘bagaimana transaksi dengan aman bagi nasabah’ oleh pihak perbankan. Ini dinilai sebagai satu kewajiban moral bank untuk mendidik nasabahnya agar berperilaku aman dalam melakukan transaksi perbankan. Kampanyenya sebenarnya sudah ada, tetapi pada pencegahan kejahatan kerah putih seperti phising, carding, dan lainnya. Tidak ada poster atau selebaran yang menasehatkan nasabah bagaimana mengamankan dirinya ketika melakukan transaksi dalam jumlah besar.

Pihak bank umumnya menyediakan satu ruang khusus bagi nasabah yang akan melakukan transaksi dalam jumlah besar. “Nasabah VIP” ini tidak perlu antri dalam barisan panjang guna menarik dana, namun dilayani di ruang khusus. Permasalahannya adalah kalau akses keluar dan masuk bank hanya satu, tentunya akan mudah bagi para pelaku untuk mengidentifikasi para “nasabah VIP” ini.

Selesai berdiskusi, saya kembali merenung. Bagaimana caranya saya sebagai orang awam membedakan antara nasabah dengan para pengintai di dalam bank? Hujan dan angin kencang kembali mengguyur Jakarta sore itu. Perlahan saya menuju ke sebuah ATM yang ramai. Ada banyak orang di sekitar pintu masuk ke ATM. Apakah mereka antri masuk ke ATM atau berteduh? Atau jangan-jangan ada pengintai di antara mereka….

Sebuah realita hidup di kota besar… kebutuhan hidup akhirnya mendorong manusia untuk bertindak berani dan terkadang nekat… Seperti saya yang akhirnya memberanikan diri menarik dana di ATM sekalipun ramai oleh orang di sekitar boks ATM… Semoga saja saya salah menilai mereka yang tengah memerlukan tempat berteduh sore ini.

March 6, 2007 - Posted by | GELISAH

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: