Statistik Gaya Deal or No Deal
RCTI kini tengah menanyangkan kuis Deal Or No Deal yang merupakan acara kuis nomor satu sepanjang tahun 2007 di Amerika Serikat. Permainannya sederhana, enam peserta menjawab pertanyaan kuis yang diberikan oleh host, dan peserta yang menjawab tercepat akan memperoleh kesempatan untuk merebut uang senilai 2 milyard rupiah. Peserta yang beruntung ini dipersilahkan memilih satu tas dari 26 tas yang diyakininya berisi uang 2 milyard rupiah. Peserta mempertahankan tas tersebut selama satu jam dari proses tawar menawar Bankir yang menginginkan peserta keluar dengan uang kurang dari 2 milyard rupiah.
Dibalik kesederhanaan permainan ini, peserta sebenarnya terjebak oleh atmosfer penonton dan gaya pembawa acara agar muncul keterlibatan emosi peserta yang menjadi ruh dari kuis ini. Bayangkan seorang peserta menolak penawaran uang puluhan juta rupiah demi mimpi memperoleh uang dua milyard rupiah hanya karena mendengar teriakan “NO Deal” dari kursi penonton ditambah tatapan mata serta kata-kata manis Tantowi Yahya. Apakah kemudian peserta harus pergi ke dukun untuk dapat menebak isi tas bernilai dua milyard rupiah? naif sekali. Deal Or No Deal sebenarnya adalah sebuah permainan statistik. Sekalipun faktor keberuntungan ikut berperan dalam kuis ini, peluang memperoleh hadiah dua milyard rupiah tetaplah sangat tipis sekali.
Copycat Film Asing
Saya sempat tidak habis pikir ketika menerima cerita dari teman saya mengenai maraknya sinetron yang meniru film/drama asing, khususnya dari Asia. Saya masih ingat ketika Meteor Garden yang digandrungi remaja putri, menjadi sasaran plagiasi sejumlah Production House. Miris sekali bagaimana industri hiburan telah terpasung oleh rating, sehingga mengesampingkan orisinalitas ide.
My Generation
Banyak yang bercerita tentang Generasi X dan bahkan ada istilah Generasi MTV. Apa sih maksudnya. Mungkin tulisan berikut dapat sedikit menjelaskan berada dalam kelompok generasi apakah Anda…?
Read more »
Kode #09 #90
Belum lama ini saya menerima email dari teman saya yang berisi:
- Jika anda menerima panggilan telepon dari seseorang dengan no.telp yang tidak dikenal atau terdaftar, berkata bahwa dia (pria/wanita) berasal dari divisi engineering/teknisi perusahaan salah satu vendor/operator cellphone yang ingin memeriksa sambungan telepon atau sinyal atau dengan alasan apapun, dan selanjutnya dia berkata bahwa kita harus menekan tombol # 90 atau #09 atau nomor apapun (bisa juga dengan kode huruf), secepatnya matikan/putuskan sambungan telepon tersebut tanpa menekan tombol yang mereka minta. karena saat ini ada penipu-penipu yang menggunakan peralatan dimana jika anda menekan tombol #90 atau #09 maka penipu-penipu tersebut dapat mengakses SIM card telepon kita dan mereka dapat menggunakan line anda dengan dan atas biaya anda.
- Jika anda menerima telepon di telepon genggam/cellphone dan layar cellphone anda menampilkan display seperti ini : (LAN). JANGAN MENERIMA SAMBUNGAN TELEPON TERSEBUT, HARAP LANGSUNG MATIKAN TELEPON ANDA DENGAN MENEKAN TOMBOL POWER(ON/OFF) CELLPHONE ANDA. Karena jika anda menerima sambungan telepon tersebut maka cellphone anda akan terkena virus. virus ini akan menghapus seluruh IMEI dan Informasi IMSI dari cellphone dan SIM card anda, dimana selanjutnya anda akan terputus hubungan sama sekali dari vendor/operator manapun. (dimana anda harus mengganti cellphone dan SIM card anda dengan yang baru). Saat ini terdapat lebih dari 3 juta telepon genggam/cellphone yang terkena Virus ini. andapun dapat membaca berita ataupun informasi mengenai hal ini di situs web CNN.
Saya coba googling dan blogwalking untuk memeriksa keabsahan rumor ini. Saya membaca satu blog menarik yang menjelaskan bahwa keduanya masih dalam kategori scam atau issue yang menakuti para pengguna telepon genggam. Keduanya merupakan isu lama yang dihembuskan kembali secara berulang kali melalui email. Nah menurut rekan-rekan sekalian, apakah ini scam atau bukan..?
SELAMATKAN LIGA INDONESIA!!!
Menteri Dalam Negeri telah melarang pemerintah daerah mengalokasikan dana APBD untuk klub sepakbola di Liga Indonesia. Kini 34 klub eks perserikatan tengah meradang dan mengancam mogok dari Liga Indonesia 2008 mendatang. Selama ini harus diakui bahwa mayoritas klub eks perserikatan terlena oleh besarnya subsidi yang diberikan pemerintah daerah. Jika PSSI tetap mendorong lahirnya Super Liga tahun 2008 dengan kondisi mayoritas klub nyaris bangkrut, tampaknya para pengurus asosiasi olahraga tertua di Indonesia ini masih terlena dengan dana APBN.

