JAPBLOG

Selamat Datang

Tokoh Pewayangan I

Tulisan ini adalah rangkaian cerita dari berbagai situs mengenai pewayangan. Ini adalah kisah-kisah yang terjadi sebelum perang Baratayudha dimulai. Lebih mudahnya diawali dari tokoh-tokoh wayang senior

Dewabrata. Sebenarnya dia adalah pewaris kerajaan Astinapura. Akan tetapi ia melepaskan haknya sebagai pewaris takhta agar ayahnya, Prabu Santanu, dapat menikah kembali dan menyerahkan tahta Astinapura ke anak yang diperoleh ayahnya dari istrinya yang baru. Ia mewujudkan janjinya dengan bersumpah tidak akan menikah, sehingga ia tidak memiliki keturunan. Oleh karena itulah dia dikenal dengan nama Bisma Dewabrata. Ia diberikan kesaktian oleh para dewata untuk boleh menentukan sendiri kapan waktu kematiannya. Akan tetapi, Dewabrata secara tidak sengaja membunuh Dewi Amba, seorang wanita yang mencintainya untuk menjaga sumpahnya. Bisma terkena kutukan Dewi Amba, bahwa ia akan terbunuh oleh titisannya. Ketika cucu-cucu Dewabrata, Kurawa dan Pandawa, berperang di Baratayudha, ia memutuskan untuk berperang membela Astinapura melawan para Pandawa. Dalam satu pertempuran, ia bertemu dengan Srikandi (titisan Dewi Amba) di medan perang dan takluk oleh serangan panah Srikandi. Sekali lagi, berkat kesaktiannya, ia tidak meninggal namun jatuh terlentang di atas kasur panah Sarpatala. Ia meninggal setelah menyaksikan akhir dari perang Baratayudha.

Dorna. Ahli panah yang berasal dari negeri Atasangin dan bermaksud menengok sodara angkatnya, Sucitra, yg konon menikahi Gandawati dari negeri Kampilya di Jawa yang terletak di seberang lautan. Ia kemudian bersumpah barang siapa yg dapat menyeberangkannya ke Jawa akan diangkat menjadi saudara bila cowok & akan diperistri bila cewek. Kemudian muncullah kuda terbang entah dari mana yang menerbangkannya ke Jawa. Di atas punggung kuda itu Dorna tertidur & dalam tidurnya ia bermimpi bertemu wanita cantik, yaitu Tilottama. Dalam mimpi itu ia tergoda oleh Tilottama sehingga spermanya jatuh ke lautan berupa buih yg kemudian diminum oleh kuda terbang tsb. Sesampainya di Jawa, kuda terbang tersebut melahirkan bayi manusia sebelum berubah kembali ke wujudnya semula dan kembali ke kahyangan. Bayi tersebut diserahkan kepada Dorna dan dipesannya untuk menjaganya dengan baik, sebab kematian putra mereka berarti kematian bagi Dorna. Ia direkrut oleh Kurawa sebagai guru mereka setelah dipermalukan Sucitra. Ia membela Kurawa sebagai tanda terima kasihnya dengan melawan Pandawa–murid-muridnya juga–di perang Baratayudha. Kesaktiannya mengkhawatirkan Kresna sehingga ia harus ditipu oleh Kresna dan Yudistira dengan memberikan kabar bahwa anaknya (Aswatama) telah tewas. Dorna yang tidak lagi bersemangat segera tertunduk lesu dan kesempatan itu dimanfaatkan Drestajumena, salah seorang perwira Pandawa, untuk memenggal kepala Dorna.

Kresna. Titisan betara wisnu, dewata yang dinilai sangat sakti dan bijaksana. Betara wisnu hanya menitis ke dunia ketika terjadi huru-hara besar yang memerlukan campur tangannya dalam menyelesaikan masalah di dunia. Adipati Kresna adalah raja Dwaraka yang memiliki senjata sakti Cakrabirawa dan, sebagai titisan Wisnu, sanggup melakukan tiwikrama–berubah menjadi raksasa besar ketika amarahnya meledak. Tokoh ini dikenal sebagai penasihat utama Pandawa dan ahli strategi perang. Sebelum perang Baratayudha pecah, ia hadir dalam sidang para Dewata yang memintanya untuk tidak ikut berperang. Tidak dijelaskan apa yang menyebabkan para dewata meminta Kresna untuk tidak ikut berperang, akan tetapi Kresna menyetujui keinginan para Dewata asalkan ia diperbolehkan melihat isi kitab Jitapsara yang menceritakan alur perang Baratayudha. Ia melihat kakaknya, Baladewa bertarung dengan Antareja–putra Bima, Adipati Karna dari Awangga dengan senjata tombak Konta (Wijayandanu) yang bahkan sulit dikalahkan oleh para dewata bertarung dengan Arjuna, serta alur perang yang tidak berkesudahan. Ia kemudian menipu kakaknya, Baladewa, agar bertapa untuk tidak terlibat dalam perang Baratayudha, menyerahkan tumbal kepada para Dewata–anak-anak para Pandawa sendiri– agar Pandawa dapat memenangkan perang, dan menjadi ahli strategi perang para Pandawa. Ia maju sebagai utusan Pandawa ke Hastina meminta para Kurawa  mengembalikan Amarta ke Pandawa. Ketika usulannya ditolak dan dilecehkan Kurawa, ia tiwikrama sehingga para Kurawa melarikan diri dari tendanya. Ia pula yang mengatur strategi agar Gatotkaca bertarung melawan Adipati Karna hingga ia terbunuh oleh senjata Konta (Wijayandanu) di medan perang. Arjuna yang ia siapkan sebagai panglima perang Pandawa selalu lolos dari ancaman maut sehingga dapat mengalahkan lawan-lawannya di medan perang. Ia yang memerintahkan Bima membunuh gajah Aswatama dan mengajak Yudistira untuk berbohong bahwa Aswatama (putra Dorna) telah wafat guna mengalahkan Dorna. Akan tetapi, sekalipun ia berhasil membuktikan dirinya sebagai ahli strategi perang, keluarga dan kerajaannya tidak dapat ia selamatkan. Kedua anaknya, Samba dan Boma, saling memusuhi. Ketika Boma berhasil membunuh Samba, Kresna menghabisi Boma dengan senjata cakra. Kerajaan Dwaraka juga akhirnya musnah ditelan gelombang laut (tsunami?) tidak lama setelah Kresna wafat. Konon kerajaan tersebut didirikan oleh para dewata hanya untuk Adipati Kresna.

Baladewa. Raja Mandura, putra tertua raja Basudewa, kakak dari Kresna dan Subadra. Adik dari Basudewa adalah Kunti, ibu dari Karna, Yudistira, Arjuna, dan Bima. Ia memiliki kulit putih dan bertubuh besar dengan senjata Nenggala, yang hanya dapat dikalahkan oleh Cakra milik Kresna. Konon Baladewa adalah keturunan naga karena memiliki senjata tersebut sejak lahir, sebagaimana Kresna memiliki cakra sebagai titisan wisnu. Ia ditipu oleh Kresna agar pergi bertapa ketika perang Baratayudha akan dimulai, supaya ia tidak bertarung dengan Antareja atau menjadi pengganjal kemenangan para Pandawa mengingat Kresna telah mengikat janji dengan dewata untuk tidak terjun di medan perang. Ia turun dari pertapaan ketika perang sudah usai dan menjadi wasit pertarungan antara Bima dengan Duryudana. Ketika Baladewa meninggal, sosok naga keluar dari tubuhnya dan terbang ke arah laut.

March 27, 2007 - Posted by japblog | CERPEN | | 7 Comments

7 Comments »

  1. Amit sewu,om……

    Kayaknya yang benar bukan Sarpatala, tapi
    SARATALPA

    Sara=panah
    Talpa=kasur

    kitu atuh om……nuwun sewu……

    OOh gitu ya istilahnya… saya cek dulu istilahnya ya. Maklum hanya pengagum

    Comment by bomanarakasura | November 15, 2007 | Reply

  2. keren, bagus buat bikin buku dan certita kartun anak-anak tuh, selama ini acara kartun kebanyakan dari luar negeri kita Indonesia, sayang ya, padahal disini banyak cerita-cerita bagus dan menarik

    Comment by ozi | October 30, 2008 | Reply

  3. Semakin banyak buku wayang yang dibaca, semakin banyak versi dan perbedaan alur cerita dan nama2 kerajaan dalam cerita wayang, yg saya tau perang baratayhuda akibat kurawa tidak mau menyerahkan indraprasta (kerajaan milik pandawa) setelah pandawa kalah taruhan dibuang ke hutan selama 13 tahun, tapi intinya perang antara gol. putih dan gol. hitam. maaf klo pengetahuan saya amat terbatas karena baru menyukai wayang kemaren sore..nuhun

    Comment by picolo | January 9, 2009 | Reply

  4. mbah dalang… tolong diprebanya lagi dunk critane….

    Comment by mas yoan | February 19, 2009 | Reply

  5. wadaw… keren cuy!
    mau nanya nih klo cerita buat wayang golek ama wayang kulit tuh sama ga sih? soalnya kalo di bandung kebanyakan wayang golek!

    Pakemnya sebenarnya sama kalau masih mengacu ke wayang yang datang saat masih ada tradisi Hindu — awal datangnya Islam ke Nusantara. Hanya saja wayang lokal menambah tokoh-tokoh lokal agar mudah dipahami seperti PUNAKAWAN (Jawa)… CEPOT dan DAWALA (Sunda)… dan lainnya

    Comment by Dikky | April 24, 2009 | Reply

  6. matur nuhun ilmu-ny, iki prawitasari yg memang sangat aku cintai! :D rencananya anak2ku mau dikasih nama2 unik ini, cakrabirawa, candrakirana, meskipun kulo berasal dr ras sundo, ad yg mau merelakan gen jawanya untuk anak2ku?? wakaka!

    sudah dibikin belum…?

    Comment by linggajati | May 1, 2009 | Reply

  7. waaaahhh….sippp!!
    memang dari buku yang satu ama buku lainnya beda” versi, tapi cuma sebatas nama kerajaan, tokoh, dan kronologisnya semata. tetapi, dari pakem cerita sama.

    upload lagi donk ceritanya,
    aku pengen tau cerita tentang “Parikesit”
    susah cari bukunya…
    kalo d,share donk!!

    andy

    Comment by andylabina | September 16, 2009 | Reply


Leave a comment