Laptop: Kembali ke Tu…Kul….
SAMARINDA, 20 February 2007.
“PERNAH PUNYA, TAPI DIJUAL”;
Anggota DPRD Gagap Teknologi, E-mail Disangka Barang
ANGGOTA DPRD Samarinda ternyata tergolong ketinggalan kemajuan dan gagap teknologi, khususnya dalam pemanfaatan surat elektronik (electronic mail tau e-mail) dalam berkomunikasi. Teknologi yang memanfaatkan komputer dan jaringan internet dan sudah dikenal bahkan oleh pelajar SMP ini ahkan tidak dikenal sebagian anggota Dewan. Sehingga ketika ditanya udahkah punya e-mail, jawabannya justru mengundang tawa.
“Saya pernah punya, tapi sudah dijual,” ujar Didik Sugiarto, anggota Komisi D dari Fraksi AKU dengan gaya meyakinkan seolah-olah e-mail dalah barang berwujud fisik yang bisa dipindahtangankan.
Read more »
Tokoh Pewayangan I
Tulisan ini adalah rangkaian cerita dari berbagai situs mengenai pewayangan. Ini adalah kisah-kisah yang terjadi sebelum perang Baratayudha dimulai. Lebih mudahnya diawali dari tokoh-tokoh wayang senior
Dewabrata. Sebenarnya dia adalah pewaris kerajaan Astinapura. Akan tetapi ia melepaskan haknya sebagai pewaris takhta agar ayahnya, Prabu Santanu, dapat menikah kembali dan menyerahkan tahta Astinapura ke anak yang diperoleh ayahnya dari istrinya yang baru. Ia mewujudkan janjinya dengan bersumpah tidak akan menikah, sehingga ia tidak memiliki keturunan. Oleh karena itulah dia dikenal dengan nama Bisma Dewabrata. Ia diberikan kesaktian oleh para dewata untuk boleh menentukan sendiri kapan waktu kematiannya. Akan tetapi, Dewabrata secara tidak sengaja membunuh Dewi Amba, seorang wanita yang mencintainya untuk menjaga sumpahnya. Bisma terkena kutukan Dewi Amba, bahwa ia akan terbunuh oleh titisannya. Ketika cucu-cucu Dewabrata, Kurawa dan Pandawa, berperang di Baratayudha, ia memutuskan untuk berperang membela Astinapura melawan para Pandawa. Dalam satu pertempuran, ia bertemu dengan Srikandi (titisan Dewi Amba) di medan perang dan takluk oleh serangan panah Srikandi. Sekali lagi, berkat kesaktiannya, ia tidak meninggal namun jatuh terlentang di atas kasur panah Sarpatala. Ia meninggal setelah menyaksikan akhir dari perang Baratayudha.
Dorna. Ahli panah yang berasal dari negeri Atasangin dan bermaksud menengok sodara angkatnya, Sucitra, yg konon menikahi Gandawati dari negeri Kampilya di Jawa yang terletak di seberang lautan. Ia kemudian bersumpah barang siapa yg dapat menyeberangkannya ke Jawa akan diangkat menjadi saudara bila cowok & akan diperistri bila cewek. Kemudian muncullah kuda terbang entah dari mana yang menerbangkannya ke Jawa. Di atas punggung kuda itu Dorna tertidur & dalam tidurnya ia bermimpi bertemu wanita cantik, yaitu Tilottama. Dalam mimpi itu ia tergoda oleh Tilottama sehingga spermanya jatuh ke lautan berupa buih yg kemudian diminum oleh kuda terbang tsb. Sesampainya di Jawa, kuda terbang tersebut melahirkan bayi manusia sebelum berubah kembali ke wujudnya semula dan kembali ke kahyangan. Bayi tersebut diserahkan kepada Dorna dan dipesannya untuk menjaganya dengan baik, sebab kematian putra mereka berarti kematian bagi Dorna. Ia direkrut oleh Kurawa sebagai guru mereka setelah dipermalukan Sucitra. Ia membela Kurawa sebagai tanda terima kasihnya dengan melawan Pandawa–murid-muridnya juga–di perang Baratayudha. Kesaktiannya mengkhawatirkan Kresna sehingga ia harus ditipu oleh Kresna dan Yudistira dengan memberikan kabar bahwa anaknya (Aswatama) telah tewas. Dorna yang tidak lagi bersemangat segera tertunduk lesu dan kesempatan itu dimanfaatkan Drestajumena, salah seorang perwira Pandawa, untuk memenggal kepala Dorna.
Read more »
Peringkat Airlines
Pemerintah mengumumkan nama-nama maskapai sesuai tingkat pemenuhan standar keselamatan. Tidak ada maskapai nasional yang masuk kategori I atau memenuhi persyaratan keselamatan penerbangan sipil. Berdasarkan Aircraft Operator Certificate (AOC) di bawah Civil Aviation Safety Regulation (CASR) 121 (lebih dari 30 seat penumpang atau cargo berjadwal), maskapai penerbangan yang masuk kategori II atau memenuhi syarat minimal keselamatan penerbangan sipil namun terdapat beberapa persyaratan belum dilaksanakan adalah:
1. PT Garuda Indonesia Airways (berjadwal penumpang/bp)
2. Merpati Nusantara Airlines (bp)
3. PT Mandala Airlines (bp)
4. PT Trigana Air Service (bp)
5. PT Pelita Air Service (bp)
6. PT Indonesia Air Asia (bp)
7. PT Lion Mentari Airlines (bp)
8. PT Wing Abadi Airlines (bp)
9. PT Riau Airlines (bp)
10. PT Ekspres Transportasi Antar Benua (borongan atau carter/bc)
11. PT Sriwijaya Air (bp)
12. PT Travel Express Aviation Services (bp)
13. PT Republic Express Airlines (cargo)
Read more »
Nokia E65 Tanpa Sim Card..?
Saya dapat kiriman artikel menarik dari teman saya.
VoIP Dasyat- Berponsel tanpa menggunakan SIM
Surabaya, Gelaran VoIP Dahsyat – Jawa Timur yang dilangsungkan di Hotel Sheraton, Surabaya , Selasa (13/3/2007) melampaui perkiraan. Dari target awal 100 peserta, yang kemudian didongkrak menjadi 130 peserta, ternyata akhirnya dihadiri oleh 170 peserta. Beberapa peserta bahkan nekat datang di hari-H, dan ngotot ikut dengan bayar di tempat.
Busway… nasibmu
9 Maret 2007
Di tengah kemungkinan terjadinya ancaman badai george dan jacob di Jakarta, saya menuju ke kawasan Merdeka Barat dengan naik busway dari Blok M menuju Kota. Jika Anda membayangkan layanan busway seperti yang dikampanyekan Sutiyoso dua tahun lalu, maka siap-siaplah anda kecewa.
Setelah membeli karcis, portal untuk dilalui penumpang sudah banyak yang rusak. Bahkan yang menyedihkan petugas yang menjaga tidak berseragam. Saya tidak tahu apakah itu benar petugas yang resmi atau outsourcing. Satu hal tidak ada pegawai berseragam transjakarta di portal yang harus dilalui penumpang.
Hal lainnya adalah AC berhembus dengan kencang di dalam bis tanpa ada alat untuk mengontrol arah hembusan AC. Dikarenakan bus yang penuh, saya terpaksa berdiri. Akan tetapi posisi berdiri menjadi tidak nyaman karena terkena “angin gunung” yang dingin di kepala saya. Saya mencoba berpindah posisi supaya tidak masuk angin, ternyata tidak ada perbedaaanya karena di sisi satunya juga sama kondisinya.
Hal lain yang mengejutkan saya, jembatan penyebrangan yang dipakai untuk jalur busway mulai ramai oleh PKL dan pengemis. Inilah hasil “penyilangan” kemajuan teknologi dengan kultur masyarakat Indonesia yang rendah pendidikannya. PKL, pengemis, preman, pemulung, dan lainnya seolah sudah tidak mungkin lagi dihadang di fasilitas publik yang modern.
Kalau dua tahun lalu Bang Yos sering marah hanya gara-gara PKL di jembatan dan copet di busway, sekarang dia tenang-tenang saja. Tampaknya taring beliau sudah mulai keropos seiring berakhirnya masa jabatannya sebagai Gubernur DKI pertengahan tahun ini. Apakah pergantian pemimpin selalu menjadi sandyaningkala fasilitas publik modern yang nyaman dan aman?

