Selamat Datang di JAPBLOG
Menulis Untuk KeabadianMU Datang Tanpa CR7..?
Dalam dua minggu terakhir ini heboh kedatangan MU ke Jakarta kian menjadi-jadi. Tiket harganya kian melambung, sulit didapat, dan penjualan replika kaos palsu MU semakin marak. Akan tetapi, pertanyaan terbesar, apa yang ingin dilihat oleh para penonton sebenarnya?
Penulis sempat ngobrol dengan beberapa remaja yang ngantri di depan sekre penjualan tiket MU di Senayan. Pertanyaannya sederhana, apa yang mau anda lihat di pertandingan nanti? mayoritas jawaban yang muncul adalah Cristiano Ronaldo yang dikenal dengan CR7… lalu Wayne Rooney, Rio Ferdinand, Park Ji Sung, Alex Ferguson, dan terakhir bintang-bintang MU lainnya.
Uniknya, satu minggu ini media olahraga internasional dihebohkan oleh nilai transfer CR7 dari MU ke Real Madrid sebesar 80 juta pound. Saat ini CR7 sedang negosiasi gaji dengan calon klub barunya tersebut. Saya jadi bertanya dalam hati, apakah para calon penonton tahu bahwa kemungkinan besar MU akan datang tanpa CR7….?
Musim transfer akan dimulai pada 1 Juli 2009 mendatang. Itu artinya, jika CR7 sudah menemui kata sepakat soal gaji dengan Real Madrid, dia tidak mungkin ikut tur pra-musim MU 20 Juli 2009 mendatang di Jakarta. Real Madrid tentunya akan marah kalau bintangnya ikut tur pra-musim klub lain. Selain itu, Real Madrid sudah menyiapkan sendiri tur pra-musimnya ke sejumlah negara, minus Indonesia.
Jadi, apakah MU akan datang tanpa CR7…?
Presiden Non-Muslim?
Belum lama ini saya menonton acara DEBAT di TVONE yang mengangkat tema “Presiden Non-Muslim: Mungkinkah?”. Ada satu kelompok yang diwakili seorang dosen IAIN dan satu orang anggota Dewan Integritas Bangsa. Mereka mengajak audiens untuk berpikiran terbuka, bahwa dengan perkembangan demokrasi dan pendidikan masyarakat Indonesia saat ini, bukan tidak mungkin seorang Presiden non-Muslim akan terpilih di Indonesia di masa depan. Di sisi lain, ada kelompok yang diwakili oleh FPI dan FUI. Mereka secara tegas menganggap bahwa Presiden non-Muslim tidak akan pernah terpilih di Indonesia dengan segala dalil dan ayat-ayat agama yang mereka kuasai. Akhir perdebatan terkesan mengambang karena waktu yang habis dan kedua kelompok tidak menemui titik temu.
Saya jadi tertarik untuk menulis serius di blog ini…(karena tulisan saya nggak pernah serius)… sehingga saya meminta masukan dari beberapa teman saya yang memang ahli dalam isu-isu politik.
Menurut beberapa teman saya yang kerjanya setiap hari survei lapangan dan menulis artikel politik di media-media beneran..(bukan blog seperti saya)…, Indonesia berdiri di atas sebuah jembatan komunikasi yang rapuh antara kelompok mayoritas dan minoritas. Soekarno dan Soeharto mewarisi bangsa yang rawan “perang saudara” kepada generasi-generasi berikutnya. Faktanya adalah transisi pemerintahan kedua tokoh nasional ini terjadi saat Indonesia berada dalam krisis. Efeknya adalah komunikasi politik yang terbangun berdasarkan “group prejudice” (prasangka kelompok). Kelompok mayoritas dan minoritas akhirnya saling tidak percaya ketika bertemu dalam sebuah arena politik dan kekuasaan.
Kelompok mayoritas dan minoritas tidak diidentifikasi hanya dalam konteks agama, namun juga dalam hal suku bangsa.
Barrack Obama misalnya. Ia adalah Presiden afro-amerika pertama Amerika Serikat setelah Amerika Serikat merdeka pada 1776, setelah Undang-Undang Anti-perbudakan diterapkan di Amerika Serikat pada akhir abad ke-18, setelah Amerika Serikat mengalami perang saudara di abad ke-19, dan Undang-Undang anti diskriminasi ras diterapkan pada akhir tahun 1960an. Artinya ada sebuah proses komunikasi politik antara penguasa kulit putih dan warga kulit berwarna di Amerika Serikat dalam jangka waktu yang sangat panjang sebelum Obama berhasil meyakinkan seluruh rakyat Amerika Serikat untuk memilihnya.
Bagaimana dengan Indonesia? Jika berkenaan dengan isu etnis, Indonesia pernah memiliki Presiden non-Jawa asal Sulawesi, yakni BJ Habibie. Teman-teman saya masih meyakini bahwa politik bernuansa etnis sedikit banyak masih berpengaruh dalam pertarungan politik nasional, apalagi sekarang caleg pemenang pemilu didasarkan pada suara terbanyak. Isu-isu etnis, kekerabatan, dan agama pasti akan kental dalam proses kampanye caleg. Menarik untuk dilihat, apakah isu-isu ini masih berlaku dalam pertarungan Pemilihan Presiden, khususnya jika Jusuf Kalla benar-benar maju sebagai Calon Presiden GOLKAR.
Sedangkan berkenaan dengan isu agama dalam pertarungan politik nasional, teman-teman saya menjawab, jalannya masih panjang. Seperti yang saya tulis di atas, Soekarno dan Soeharto mewariskan bangsa yang berada di ambang “perang saudara” kepada generasi berikutnya. Jutaan rakyat Indonesia mati atas nama ideologi, kekuasaan, dan kepentingan politik. Beruntung sekali bangsa ini tidak terjerembab seperti Yugoslavia atau negara yang terus dihantam gejolak dalam negeri seperti India dan Pakistan.
Solusinya adalah kelompok mayoritas di Indonesia harus memulai pembangunan sebuah komunikasi politik yang sehat dengan kelompok minoritas guna secara perlahan menghapus “group prejudice” yang terbangun selama ini. Setidaknya dalam 25 tahun ke depan, ketika generasi MTV yang lahir tahun 1980an memimpin negeri ini, komunikasi politik antara kelompok mayoritas dan minoritas dapat terbangun sehat dan positif.
Kenapa harus kelompok mayoritas? Bukankah kelompok minoritas juga memiliki peran membangun komunikasi politik yang sehat? Teman-teman saya menjawab, siapa yang memegang kekuasaan? Kelompok mayoritas. Artinya, komunikasi politik yang terbangun harus dituangkan ke dalam sebuah peraturan hukum positif guna menjamin hak-hak warga negara yang terbebas dari diskriminasi etnis dan agama. Misalnya di Amerika Serikat saat ini, kalau ngomong “negro” ke hadapan orang afro-america, Anda bisa dipenjara karena menyebarkan kebencian etnis.
Saya akhirnya hanya manggut saja….
Saat Generasi MTV Meliput Pak Harto
Dikutip dari Harian Republika. Bukti bahwa pendidikan di Indonesia berhasil membodohi rakyatnya sendiri agar tidak pernah belajar dari sejarah……
Mereka datang laksana air bah ke Rumah Sakit PusatPertamina (RSPP), begitu mengetahui Soeharto terbaring di sana sejak Jumat(4/1) pukul 14.15 WIB. Ada tokoh pemerintah, tokoh politik, artis, mantanpejabat, hingga wartawan.
Hari pertama Pak Harto menempati Presidential Suite,lantai 5, kamar 536,pengunjung belum banyak.Yang terlihat hanya orang dekat seperti Wismoyo Arismunandar, Prabowo
Subianto, dan Moerdiono. Tapi, Sabtu (5/1) siang hingga malam, lobi Gedung A RSPP tak henti-hentinya kedatangan mobil mewah. Hari itu, memang terbetik kabar bahwa kondisi kesehatan Pak Harto menurun, bahkan sempat kritis.
Read the rest of this entry »
Statistik Gaya Deal or No Deal
RCTI kini tengah menanyangkan kuis Deal Or No Deal yang merupakan acara kuis nomor satu sepanjang tahun 2007 di Amerika Serikat. Permainannya sederhana, enam peserta menjawab pertanyaan kuis yang diberikan oleh host, dan peserta yang menjawab tercepat akan memperoleh kesempatan untuk merebut uang senilai 2 milyard rupiah. Peserta yang beruntung ini dipersilahkan memilih satu tas dari 26 tas yang diyakininya berisi uang 2 milyard rupiah. Peserta mempertahankan tas tersebut selama satu jam dari proses tawar menawar Bankir yang menginginkan peserta keluar dengan uang kurang dari 2 milyard rupiah.
Dibalik kesederhanaan permainan ini, peserta sebenarnya terjebak oleh atmosfer penonton dan gaya pembawa acara agar muncul keterlibatan emosi peserta yang menjadi ruh dari kuis ini. Bayangkan seorang peserta menolak penawaran uang puluhan juta rupiah demi mimpi memperoleh uang dua milyard rupiah hanya karena mendengar teriakan “NO Deal” dari kursi penonton ditambah tatapan mata serta kata-kata manis Tantowi Yahya. Apakah kemudian peserta harus pergi ke dukun untuk dapat menebak isi tas bernilai dua milyard rupiah? naif sekali. Deal Or No Deal sebenarnya adalah sebuah permainan statistik. Sekalipun faktor keberuntungan ikut berperan dalam kuis ini, peluang memperoleh hadiah dua milyard rupiah tetaplah sangat tipis sekali.
Copycat Film Asing
Saya sempat tidak habis pikir ketika menerima cerita dari teman saya mengenai maraknya sinetron yang meniru film/drama asing, khususnya dari Asia. Saya masih ingat ketika Meteor Garden yang digandrungi remaja putri, menjadi sasaran plagiasi sejumlah Production House. Miris sekali bagaimana industri hiburan telah terpasung oleh rating, sehingga mengesampingkan orisinalitas ide.


